Penonton dan Suporter

 

Pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula berlangsung dengan lancar dan meriah. Ini dikarenakan oleh kekompakkan para suster, para guru, karyawan, alumni, murid dan beberapa orang tua murid. Kami, berperan sebagai penonton dan suporter

            Kami tiba di sana pada pukul 12.00, dan keadaan di sekitar gedung pertunjukan sudah mulai padat dan ramai, dipenuhi oleh penonton sesi siang. Cuaca mendung, namun tidak menyurutkan semangat para penonton.

Pukul 12.30 pintu mulai dibuka, para penonton pun  memasuki panggung pertunjukkan . Sementara menunggu waktu pentas dimulai, pengunjung disuguhi oleh pameran karya-karya unggulan dari unit TK hingga SMA dalam lomba kebahasaan . Ada juga yang membeli makanan dan minuman dari stan-stan yang telah disediakan.

Sekitar pukul 13, para penonton diizinkan masuk ke dalam gedung pertunjukkan. Panitia ticketing sudah bersiap menjaga. Gedung pertunjukan pun mulai penuh dan padat.

Pertunjukkan dibuka oleh penampilan dari Putri Santa Ursula Marching Brass (PSUMB), dilanjutkan oleh drama yang berjudul “Untaian Mutiara Khatulistiwa”. Alur cerita yang bagus menurut kami, pertunjukkan siang itu pun berlangsung sukses dan sangat meriah.

Namun ada yang sangat disayangkan dan perlu diperbaiki, yaitu pada saat awal pertunjukkan, mic mengalami sedikit masalah sehingga suara pemain hanya terdengar putus-putus. Untuk sound system juga perlu diperbaiki agar tidak menghambat pertunjukkan.

Perasaan kami senang dan tentu bangga karena pertunjukkan berjalan sukses. Ini menandakan bahwa latihan para pemain tidaklah sia-sia. Dukungan para penonton dan suporter juga berharga karena tanpa mereka, pertunjukkan ini takkan berjalan sukses.

Tanggal 26 Januari 2014 adalah Misa Kampus sekolah Santa Ursula. Misa dipimpin oleh Bapak Uskup Ignatius Suharyo, SJ. Unit TK hingga SMA pun berkumpul untuk mengucap syukur atas 155 tahun sekolah Santa Ursula.

Misa berlangsung dengan meriah dan khidmat, apalagi saat menyanyikan lagu “Insieme”. Lagu ini dinyanyikan oleh semua sekolah Ursulin di seluruh dunia, sehingga menunjukkan kekeluargaan dan keakraba satu sama lain.

Semoga ke depannya, sekolah Santa Ursula tetap maju dan terberkati Tuhan. Proficiat!!

Oleh:                 

Astrid / VII-1 

Aurelia / VII-1

 

 

Ada yang Jaipong, Ada yang Nonton dong!

 

Pensi 155 tahun Sekolah Santa Ursula dilaksanakan dengan sangat meriah di Teater Besar Taman Ismail Marzuki ,tanggal 18 Januari 2014 lalu. Pelaksanaannya melibatkan lebih dari 400 siswa-siswi dari Sekolah Santa Ursula, hingga melibatkan alumni pula. Acaranya berlangsung lancar, namun karena beberapa hal seperti banjir, waktu semakin mengetat. Harga tiket bervariasi, namun hasilnya sepadan. Pensi ini disiapkan dengan sungguh-sungguh, sehingga memuaskan.

            Latihan dimulai selama ±4 bulan sebelum hari H, sekitar akhir bulan Oktober.Yang terlibat acara ini harus mengorbankan waktu belajar, tugas menumpuk, untuk hal lainnya. Beragam tarian dipentaskan, seperti Tari Perangkap, Jaipong, Saman, Malioboro, dll. Semua demi merayakan 155 tahun berdirinya Sekolah Santa Ursula.

            Awalnya terasa sangat sulit, musiknya seperti  dikejar kereta karena cepatnya. Tapi setelah dirasakan, lama-lama kami bisa kami bisa mengikuti musiknya, bahkan terasa pelan sekali. Mendayu-dayu. Kostum dan make-up tidak kalah memusingkan, apalagi lipstick-nya dipoleskan tebal-tebal. Nah, berikut komentar penonton !

            “ Tarian yang paling hebat sudah pasti Tarian Saman, dan lagu yang paling kompak tentunya Kenapa Marah. Namun, penampilan murid-murid dari SD dan TK menambahkan nuansa humor serta ceria. “

            Saat pensi berlangsung, penonton dapat membeli jajanan  di stand-stand makanan serta melihat-lihat pameran hasil karya murid-murid. Juga ada hasil lomba kebahasaan yang dipajang, beserta lampirannya.

Belinda, Queby      VII-1

 

 

Pentas Seni 155 Tahun Sekolah Santa Ursula

 

Hai , namaku Callista , temanku Karin dan teman ku Fina , kami bertiga akan berbagi cerita mengenai pengalaman kami selama persiapan sampai pertunjukan pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula .

Hai , namaku Callista , aku adalah salah satu siswi yang ikut berpartisipasi dalam pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula sebagai penari . Sekarang aku akan berbagi cerita mengenai ltihan pertamaku sampai pertunjukanku . Latihan pertamaku diadakan sekitar bulan November , latihan tersebut diadakan setiap hari Sabtu sepulang ekskul sampai jam 2 . Aku dan 19 temanku yang lain mendapat bagian dalam menampilkan salah satu tarian dari Jawa Barat yaitu Jaipong , kami dilatih oleh salah seorang pelatih tari bernama Kak Ana . Awalnya memang sulit karena Jaipong merupakan tarian baru bagi kami tapi dengan latihan terus-menerus dan dengan bekerja keras , kami menjadi lebih leluasa dalam menarikan tarian tersebut . Banyak yang kami korbankan demi latihan menari ini mulai dari waktu istirahat kami sampai beberapa kegiatan sekolah lainnya tetapi itu tidak mematahkan semangat kami dalam menari .

 Setelah beberapa minggu latihan kami menyelesaikan tarian tersebut . Selesai liburan natal kami memasuki latihan gabungan dengan para pemain drama , latihan dimulai dari awal kami masuk sekolah di semester 2 di aula SD , hari pertama latihan kami melakukan blocking , hari kedua dan selanjutnya kami memulai latihan yang sebenarnya . Awalnya kami masih canggung dan tidak tahu kapan kami akan tampil tapi setelah berkali-kali latihan kami menjadi lebih terbiasa dalam menarikannya . Pentas seni ini diadakan pada tanggal 18 Januari 2014 di Teather Besar , Taman Ismail Marzuki , pada tanggal 17 Januari 2014 kami melakukan gladi bersih di Teather Besar , Taman Ismail Marzuki . Kami cukup gugup karena ini pertama kalinya bagi kami untuk tampil di panggung besar , tapi setelah beberapa saat kami sudah lebih terbiasa .

 Akhirnya tibalah hari yang kami tunggu-tunggu kami berkumpul di sekolah jam 07.00 dan berangkat ke Taman Ismail Marzuki pada pukul 08.00 . Sampai di sana kami segera bersiap-siap melakukan make-up dan berganti kostum , pertunjukan diadakan 2 kali , pertunjukan pertama diadakan pada jam 13.00-15.00 , dan pertunjukan kedua diadakan pada jam 19.00-21.00 . Kami mendapat makan siang pada pukul 12.00 dan beberapa snack lainnya . Akhirnya pertunjukan pertama dimulai setelah menunggu akhirnya tibalah saatnya untuk kami menampilkan tarian yang sudah kami persiapkan . Kami merasa sedikit gugup karena kali ini akan banyak penonton yang menonton penampilan kami , bahkan beberapa dari kami mengalami demam panggung , tapi ketika saat nya tampil , kami dapat mengatasi rasa gugup kami dan menari dengan leluasa . Kami selalu berdoa bersama sebelum tampil dan berkata “ DO OUR BEST !!! ” , itulah yang menjadi motivasi kami , dan akhirnya penampilan kami dapat berlangsung dengan lancar , lega rasanya saat mendengar tepuk tangan penonton  . Kami juga mendapat makan malam pada pukul 06.00 . Akhirnya kedua penampilan tarian Jaipong kami dapat berjalan dengan lancar dan sukses . Itulah cerita pengalamanku mengenai pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula .

Hai , namaku Karin . Aku berperan sebagai penonton di pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula , sekarang aku akan bercerita mengenai pertunjukan yang kutonton . Aku berangkat bersama teman-teman ku yaitu Angie dan Lareine . Pertunjukan pensi ini bertema Untaian Mutiara Khatulistiwa , pertunjukan dimulai dengan penampilan Marching Brass pensi ini bercerita tentang pangeran yang berkelana ke seluruh wilayah di Indonesia untuk menemukan gadis kecil yang 10 tahun lalu telah menyelamatkan dia ketika ia menjadi Cendrawasih dari perangkap . Perjalanan itu membawa pangeran untuk mengetahui keragaman budaya Indonesia , mulai dari tari-tarian , gaya hidup yang baik di berbagai wilayah di Indonesia . Banyak pelajaran yang pangeran dapatkan selama perjalanan itu mulai dari melakukan penghijauan dan lain-lain dan semua itu berawal dari kesadaran diri kita masing-masing .  Sampai akhirnya ia sampai di Jakarta dan bertemu si gadis , lalu ia mengucapkan terima kasih . Penutupan ditutup dengan penampilan Marching Brass . Itulah ceritaku mengenai pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula .

Hai , namaku Fina . Aku berperan sebagai pemain drama di pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula , sekarang aku akan berbagi cerita mengenai pengalamanku selama pentas seni . Latihan pertamaku diadakan pada hari pertama aku  masuk sekolah di semester 2 , saat itu kami hanya melakukan latihan blocking , keesokan harinya kami baru melakukan latihan dengan dialog . Aku mendapat peran sebagai salah satu pemeran kerusuhan Jakarta . Peran ku sebagai kerusuhan Jakarta mendapat bagian di belakang sehingga aku dan teman-teman lain yang juga mendapat peran kerusuhan Jakarta harus menunggu cukup lama . Kami menggunakan waktu menunggu itu dengan membaca buku dan makan . Hampir 2-3 minggu waktu yang ada untuk kami berlatih , latihan ini merupakan latihan gabungan dari TK-SMA yang latihannya berlokasi di aula SD . Selama proses latihan kami sering mendapat teguran dari sutradara kami , tapi teguran itu membuat kami semakin serius dalam melakukan latihan kami bertekad untuk menampilkan penampilan yang dapat memuaskan penonton . 1 minggu sebelum pertunjukan aku serta teman-teman lainku yang berperan dalam kerusuhan Jakarta mendapat peran tambahan yaitu sebagai pembawa sesajen , kami melatih peran itu dengan serius karena waktu yang kami dapat untuk berlatih tidak banyak .

Pada tanggal 17 Januari 2014 kami melakukan gladi bersih di teather besar , Taman Ismail Marzuki . Akhirnya tiba saatnya aku melakukan gladi bersih , awalnya aku merasa gugup tapi aku tetap optimis untuk melakukan yang terbaik . Akhirnya hari pertunjukan tiba , pada tanggal 18 Januari 2013 dalam perjalanan ke sekolah aku terjebak banjir , tetapi karena pertolongan Tuhan aku dapat melewati banjir tersebut . Karena aku sudah telat , aku memutuskan untuk langsung menuju Taman Ismail Marzuki karena semua pemain drama sudah berada disana , aku sampai di sana sekitar pukul 9 . Selain aku banyak juga teman-teman lain yang terlambat karena banjir , tetapi keadaan banjir tidak mematahkan semangat kami untuk sampai di Taman Ismail Marzuki . Sampai disana kami langsung make-up dan berganti kostum kemudian briefing sebelum pertunjukan yang pertama . Sebelum pertunjukan kami diwajibkan untuk makan siang terlebih dahulu . Akhirnya pertunjukan pertama dimulai , kedua peran yang kuperani pun berhasil kutampilkan dengan sukses , awalnya aku gugup tapi saat tampil kegugupan ku hilang . Pada pertunjukan kedua walau penonton lebih banyak 2 kali lipat aku juga dapat menampilkannya dengan baik . Akhirnya pertunjukan selesai , aku sangat senag karena hasilnya memuaskan dan mendapat teman baru baik dari TK-SMA . Itulah ceritaku mengenai pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula .

Banyak pengalaman berharga yang kami dapat dari pentas seni 155 tahun sekolah Santa Ursula seperti mendapat pengalaman menari , bermain drama , dll . Melalui drama ini kami juga mendapatkan banyak pelajaran bagaimana menjalani hidup yang baik dan menghargai alam serta keragaman budaya yang di miliki Indonesia . Pengalaman yang kami dapatkan merupakan pengalaman yang tidak tergantikan dan kami berharap dapat berguna dikehidupan kami selanjutnya . Terima kasih telah membaca pengalaman kami mengenai acara pentas seni 155 tahun Santa Ursula .

 

 

Kuingin “Bersepeda” Lagi

 

Senang sekali rasanya bisa pensi lagi setelah menunggu 6 tahun lamanya. Terakhir pentas seni dilaksanakan di gedung JITEC Mangga Dua dan pada saat itu saya masih kelas 1 SD. Sekarang akhirnya pensi ada lagi untuk merayakan 155 tahun Sekolah Santa Ursula di Taman Ismail Marzuki. Aku merasa sangat bangga melihat ada spanduk “Untaian Mutiara Khatulistiwa” terpasang di pintu masuk sehingga semua orang bias melihatnya. Sekarang aku sudah kelas 7 dan untuk bisa berpartisipasi sangat menyenangkan rasanya.Aku bertugas sebagai kru MB, walaupun tidak ikut tampil tapi aku senang bias membantu kakak-kakak senior agar mereka bisatampil dengan baik.Selain itu aku juga mendapat keutungan selama menjaga di backstage karena bisa sekalian nonton pensi. Di backstage aku menjaga alat bersama kru lainnya, dan walaupun dingin untungnya ada jaket MB.

Temanku ,Zevel juga memberikan partisipasi yang besar untuk pensi. Ia menjadi figuran drama dan karena pensi dia jadi bisa naik sepeda. Inilah ceritanya:

Kami mulai latihan dari semester satu setelah ulangan umum.TK, SD, SMP, SMA, guru-guru, orang tuamurid, dan saya dan semuanya terlibat dalam penta seni tahun ini. Aku memilih menjadi salah satu pemain figuran untuk situasi Jakarta. Awalnya saya memilih menjadi mahasiswa, tapi Pak Markus sutradara kami mengubah peran aku menjadi mahasiswa yang bersepeda. Sebenarnya aku bisa memilih antara mahasiswa yang sedang jogging dan mahasiswa yang sedang bersepeda.Teman saya yang juga menjadi mahasiswa tidak bisa bersepeda, jadi saya memberanikan diri untuk mencoba, walaupun saya sendiri tidak bisa bersepeda.

Semester dua kami semua mulai latihan gabungan.Saat teman-teman saya latihan blocking saya belajar naik sepeda. Saya belajar dengan bantuan teman-teman saya yang siap menangkap saya jika saya jatuh. Hal itu membuat saya senang karena artinya teman-teman saya rela membantu. Pada akhirnya dalam satu hari saja saya sudah bisa naik sepeda. Itu semua karena motivasi yang diberikan teman-teman aku supaya aku tidak takut jatuh. Pada saat latihan tentu banyak suka dukanya. Kami terpaksa mengorbankan waktu belajar kami semua demi mempersiapkan pensi. Bahkan kami juga harus mengorbankan waktu liburan kami hanya untuk pensi. Kadang-kadang saya merasa lelah dan ingin menyerah atau bahkan tidak mau masuk sekolah. Tapi seolah-olah selalu ada yang memperingatkan saya. Maka saya menjalani latihan saya dengan semaksimal mungkin.

Tidak terasa tiba-tiba sudah mau pentas. Kami semua naik bus menuju Taman Ismail Marzuki untuk gladi bersih sehari sebelum pentas.Semua guru-guru sibuk membawa barang dan mengurus semua pemeran. Pada saat saya pertama kali melihat panggung saya terkagum-kagum karena menyadari bahwa nanti akan ada banyak penonton yang akan menonton pensi ini. Gladi bersih kami berlangsung sampai malam dan kami sudah pasti lelah. Namun pada saat pentas kami semangat lagi. Pada saat saya akan tampil jujur saja saya merasa sangat gugup. Bagaimana jika tiba-tiba saya jatuh? Untungnya pada saat pertunjukan pertama permainan sepeda saya berjalan lancar, namun pada saat pertunjukkan kedua saya menabrak salah satu pemain, tapi saya berusaha membuatnya terlihat seperti skenario.

Saya senang bisa berpartisipasi dalam pensi tahun ini. Jujur saja, dari segi pelaksanaan sebenarnya masih banyak hal yang perlu diperbaiki menurut pendapat saya.Tapi banyak hal yang saya pelajari. Salah satunya tentu cara menaiki sepeda. Tapi hal paling penting adalah fakta bahwa persaudaraan itu penting. Tanpa motivasi, rasa persaudaraan, maupun kasih, mungkin aku tidak akan bisa naik sepeda. Kalau ada pensi lagi, jika memungkinkan saya akan ikut. Tapi saya ingin peran yang jauh lebih berbeda lagi, yang menantang seperti peran ini.

Itulah cerita dari temanku, Zevel. Tentunya teman-temanku yang lain juga ingin pensi bisa diadakan lagi. Pensi merupakan acara yang sangat besar atau mungkin paling besar bagi sekolah ini karena itu pasti sangatlah susah untuk menyelenggarakannya. Tapi saya sangat berharap akan ada pensi lagi sebelum saya lulus dari Sekolah Santa Ursula.

 

Gemma VII-I

Zevel VII-I

 

 

Banjir ?

Ya, Tetap Nontonlah !

 

            Sabtu, 18 Januari 2014, pentas seni dalam rangka peringatan 155 tahun Sekolah Santa Ursula yang dinanti-nanti pun digelar, tepatnya di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pentas ini diadakan dua kali, yaitu pada pukul 13.00 WIB dan pukul 19.00 WIB.

            Lama sebelum pentas dimulai, sudah banyak orang yang datang ke tempat, walaupun hujan terus mengguyur, dan banjir pun ada di mana-mana. Terlihat pula anggota PSUMB yang memasuki ruangan sudah dengan pakaian dan peralatan lengkap.

            Akhirnya, setelah menunggu lama di depan gedung, pintu masuk pun dibuka. Sebelum pentas seni dimulai, para penonton dipersilahkan untuk melihat-lihat pameran karya-karya murid Santa Ursula. Di antara keramaian di dalam gedung, dijumpai banyak Suster Ursulin dari berbagai tempat, seperti Sr. Noorwindhi,OSU kepala SMP Santa Ursula, Sr. Francesco,OSU (Santa Ursula BSD) Sr. Antoinette, OSU dan kepala SMP Santa Maria. Dijumpai pula Sr. Marisa, mantan kepala sekolah Santa Angela, Bandung.

            Selain suster-suster ursulin, datang pula anak-anak dari Panti Asuhan Vincentius Putra dan Vincentius Putri. Tidak lupa, orang tua murid. Orang tua kebanyakan datang di pertunjukan malam, agar bisa langsung menjemput anak-anaknya yang terlibat pentas seni. Pantas saja, pertunjukan malam lebih ramai dari pertunjukan siang.

            Beberapa saat setelah melihat pameran, seorang panitia mengumumkan bahwa penonton sudah diperbolehkan mamasuki teater. Untuk kelas satu, VIP, dan VVIP paling mudah untuk memasuki teater karena berada di lantai satu atau dua. Namun, untuk kelas dua agak repot, karena berada di lantai teratas. Pertamanya, lift ke lantai dua dan semua eskalator dimatikan. Terpaksa, untuk pemegang tiket beberapa kelas satu dan semua kelas dua harus berjalan di eskalator. Setelah itu, untuk ke lantai tiga baru bisa menggunakan lift. Sudah begitu, seram sekali rasanya menengok ke bawah dari lantai tiga, karena lantai tiga letaknya sangat tinggi !

            Tirai panggung pun dibuka setelah menyaksikan banyak iklan dari sponsor, seperti kosmetik Martha Tilaar, Asuransi Wahana Tata, dan lain-lain. Di atas panggung, terlihat pasukan PSUMB yang bersiap memainkan alat musiknya masing-masing. Penonton juga menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi oleh grup Marching Brass yang fenomenal itu. Setelah itu, pentas seni dimulai.

            Pentas ini mengisahkan tentang Pangeran Cendrawasih yang berwujud dua, yaitu manusia dan burung Cendrawasih. Pangeran ini bertempat tinggal di Papua. Sepuluh tahun yang lalu, saat ia berwujud burung Cendrawasih, ia tertangkap perangkap pemburu. Beruntung, ada seorang gadis kecil pencari kayu bakar yang menyelamatkannya. Sepuluh tahun pun berlalu. Walaupun kejadian itu sudah lama berlalu, tetapi keinginan Pangeran untuk menemui gadis itu lagi tidak pernah pudar, karena ia ingin sekali berterima kasih padanya. Saat  itu ia berwujud Cendrawasih, maka tak mungkin ia berbicara. Akhirnya, ia pamit pada orang tuanya, dan pergi menjelajahi seluruh nusantara, sesuai dengan judul pentas, “Untaian Mutiara Khatulistiwa”.

            Provinsi demi provinsi ia kunjungi. Namun, belum juga ia menemukan gadis itu. Menurut orang-orang dari penjuru daerah, gadis yang dicarinya itu merupakan orang yang mengajarkan tentang kepedulian terhadap lingkungan hidup di Nusantara. Maka, ia selalu berpindah-pindah lokasi.

            Setelah mengunjungi Kalimantan, Aceh, Bali, Jogja, dan beberapa tempat lainnya, akhirnya Pangeran Cendrawasih sampai di Jakarta. Ia sengsara sekali di sana, karena di tempat ini terdapat banyak sekali polusi. Ditambah, saat ia berwujud Cendrawasih, ia diburu oleh anak-anak jalanan, juga seorang pengusaha kaya. Saat ia berjalan di pelosok kota, ia menemukan seorang anak pemulung. Pangeran pun menghiburnya dengan terlebih dahulu berubah wujud menjadi manusia.

            Mereka berdua berjalan-jalan bersama menelusuri Kota Metropolitan, sampai akhirnya bertemu dengan seorang perempuan cantik yang mendemonstrasikan tentang kebersihan lingkungan pada orang-orang yang ada di sana. Sang Pangeran pun langsung berprasangka bahwa mungkin itulah orang yang dicarinya setelah sepuluh tahun. Dan akhirnya, setelah Pangeran Cendrawasih mengingatkan dara itu tentang kejadian satu dekade lalu, ia bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya pada gadis itu.

            Lalu pentas itu ditutup oleh PSUMB. Orang-orang takjub melihat penampilannya, terutama para penari yang dengan lihai beratraksi dengan bendera yang dipegang masing-masing. “Sungguh pentas yang luar biasa,” ujar seorang orang tua murid setelah menonton seluruh pertunjukan. “Tidak rugi datang ke sini, setelah bertarung melawan banjir, karena pentasnya sangat spektakuler.” Lalu seorang siswi juga mengungkapkan bahwa tari Bali dan tari Saman yang dipentaskan sangat keren.

            Selain diadakannya pentas besar ini, untuk merayakan 155 tahun Sekolah Santa Ursula juga diadakan tiga acara lainnya, yaitu lomba kebahasaan untuk seluruh murid Sekolah Santa Ursula yang hasil lombanya telah diumumkan melalui pameran saat Pentas Seni, Talk Show dengan pembicara kunci Ir.Djoko Widodo yang akan diselenggarakan pada Sabtu (25 / 1),  dan terakhir, misa kampus pada esok harinya. Misa akan dipimpin oleh Bapa  Uskup, Mgr. Ignatius Soeharyo.

            Pada misa kampus, siswa-siswi diharapkan memakai jaket hijau sekolah yang telah dibagikan pada Kamis (23 / 1) lalu. Pasti semuanya akan bersemangat pada misa ini, karena akhirnya diperbolehkan memakai jaket baru itu.

 Brigitta  VII-1

 

 

Perjuangan Ratusan Tahun

 

Sekolah Santa Ursula mengadakan serangkaian acara untuk memperingati ultahnya yang ke-155 tahun. Acaranya antara lain adalah Pentas Seni, Talk Show, Misa Kampus, dan Lomba Kebahasaan. Salah satu acara, yaitu Pentas Seni telah diselenggarakan pada tanggal 18 Januari 2014 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Acara itu dimeriahkan oleh lebih dari 700 murid sekolah Santa Ursula Jakarta. Para orangtua murid dan alumni juga ikut ambil peran dengan menyumbang uang.

Salah seorang murid berkata bahwa acaranya sangat meriah dan bagus walaupun ternyata dia datang sedikit terlambat. Sayang, salah satu temannya tidak bisa datang karena kebanjiran, padahal ia sudah membeli tiketnya. Dia sempat sedih tetapi tidak lagi setelah diceritakan tentang acaranya oleh temannya. Selama menunggu pertunjukkan, disana juga ada pameran karya-karya siswi Santa Ursula. Tema untuk acara pentas seni kali ini adalah “Untaian Mutiara Khatulistiwa”.

Acara lain yang diselenggarakan selanjutnya adalah Talk Show. Dalam acara ini sekolah Santa Ursula mengundang beberapa orang penting, salah satunya Gubernur DKI Jakarta – Ir. Djoko Widodo. Sekolah juga mengundang orang penting lainnya antara lain Dr. Martha Tilaar, Anies R. Baswedan, Ph.D., Dra. Liria Tjahaja, M.Si., dan Letkol Kav. TNI Agustinus Purboyo serta moderator acara tersebut yaitu Aries Heru Prasetyo, M.M., acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 25 Januari 2014 di Aula SD Sekolah Santa Ursula Jakarta. Acara Talk Show ini bertema “Pendidikan Karakter” yang bertujuan untuk sebagai upaya membentuk pribadi berintegritas untuk Indonesia yang lebih baik. Dalam acara ini sekolah Santa Ursula juga mengundang guru-guru serta kepala sekolah dari sekolah lain, orangtua murid, serta murid-murid SMP maupun SMA yang sudah dibatasi jumlahnya.

Pada Minggu, 26 Januari 2014, sekolah Santa Ursula akan mengadakan misa kampus yang diikuti oleh seluruh murid sekolah Santa Ursula Jakarta mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA serta guru-guru dan kepala sekolah. Misa kampus ini akan dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta – Mgr. Ignatius Suharyo. Misa kampus ini sangat meriah, paduan suara, pengiring musiknya diperankan oleh murid sekolah Santa Ursula sendiri. Pada misa kampus ini, semua murid sekolah Santa Ursula mengenakan seragam putih kotak-kotak hijau dan wajib mengenakan jaket 155 tahun sekolah St. Ursula yang merupakan hadiah dari yayasan.

Program acara nya yang terakhir adalah Lomba Kebahasaan. Lomba ini diikuti oleh semua murid St. Ursula mulai dari TK sampai SMA. Untuk SMP semua diminta untuk membuat sebuah karya yang bertema “Aku Bangga menjadi Murid SMP St. Ursula”. Untuk kelas 7, mereka membuat puisi sesuai dengan tema tersebut. Kelas 8, mereka membuat sebuah refleksi bebas, dan untuk kelas 9 mereka membuat sebuah cerita argumentasi yang menceritakan kisah sesuai dengan tema. Lomba ini telah menentukan 10 besar dan 3 pemenang yang berhak mendapatkan sertifikat dan piala, pengumuman pemenang telah dibacakan pada Sabtu, 18 Januari 2014 yang lalu.

Kini sekolah Santa Ursula genap berumur 155 tahun. Kita semua mengharapkan, agar sekolah St. Ursula yang berumur 155 tahun ini, akan bertambah maju, bertambah sukses, dan akan tetap dipandang sebagai sekolah favorit. Selama ratusan tahun, sekolah ini telah mencetak orang-orang hebat yang memiliki karakter yang baik serta patut dicontoh kesuksesannya. Tidak mudah menemukan sekolah yang telah bertahan lebih dari 1 abad ini, terutama di Jakarta. Semoga di umur 155 tahun ini, semua murid yang menimba ilmu disini, guru-guru yang mengajar serta karyawan lain yang senantiasa bekerja untuk sekolah ini diberkati dan mereka harus tetap berjuang menghadapi segala hal seperti sekolah Santa Ursula yang berjuang selama ratusan tahun.

 Oleh    :

Rica VII-1/19

Helen VII-1/22

 

 

 

Kerusuhan Hutan di Kalimantan

 

Dalam rangka memperingati ulang tahun Sekolah Santa Ursula yang ke-155 thn, sekolah mengadakan pentas seni yang diselenggarakan pada tanggal 18 januari 2014 bertempatan di Theater Jakarta Taman Ismail marzuki.

            Kami latihan hampir setiap hari sehingga kami meninggalkan tugas dan tidak mengikuti pelajaran. Lisa berperan sebagai pemburu di adegan kerusahan hutan dan sebagai mahasiswa di adegan maliobor sedangkan Floren berperan sebagai ibu pencuci baju di adegan kerusuhan hutan da sebagai penjalan kaki di adegan malioboro

            Kami mulai latihan pada bukan Desember yang lalu dan kami melanjutkannya kembali pada bulan Januari 2014. Pastinya ada suka dan duka yang kami alami selama latihan. Kami mendapatkan banyak pengalaman , dibalik itu kami juga sangat lelah untuk menunggu giliran kami untuk tampil.

             “Berperan sebagai pemburu itu sangat seru dan saya juga sangat menikmatinya ”, ucap Lisa , sedangkan menurut Floren , berperan sebagai pencuci baju itu sangat seru apalagi ketika adegan pemburu memasuki panggung, ia harus berlari-lari dan berakting seperti ketakutan.

             Sehari sebelum hari H, kami melakukan gladi resik yang diadakan di Theater Jakarta Ismail Marzuki. Kami memulainya sekitar jam 1 tetapi karena ada kesalahan teknis sehingga diundur menjadi jam setengah 3, kami pun harus pulang terlambat.

             Pada saat hari H, kami semua harus berkumpul di Santa Ursula sekitar jam 7 setelah itu kami semua berangkat ke Theater Jakarta Ismail Marzuki dengan menggunakan bus, karena cuaca yang tidak mendukung sehingga kami disuruh untuk berdoa Bapa Kami kali 7x dan Salam Maria 7x. Sesampainya disana kami memakai kostum kami sesuai dengan peran kami masing-masing. Setelah itu kami dimake-up. Sehabis di make-up, kami menunggu waktu kami tampil.Sambil menunggu tampil, beberapa murid ada yang bermain HP, kartu, membaca buku dan sebagainya.

            Waktu pentas kami pun tiba.Kami semua sangat gugup.”Saya hanya berharap supaya saya bisa berakting dengan lancar dan benar,”ujar Floren,yang sedang berada di belakang panggung.Tak lama,giliran kami pentas pun tiba.Kami,sebagai figuran,mulai masuk sebagian seusai urutan kami.Floren,masuk di bagian awal saat dituasi sedang damai.Sedankan Lisa,masuk terakhir saat situasi sedang rusuh dan kacau.Lisa pun berteriak,”Minggir,Minggir!”Floren dan figuran lainnya pun juga berteriak dan ketakutan.

            Pendapat orang-orang tentang pentas seni,banyak yang bilang itu lancar dan sukses.Banyak orang menyukai Tarian Saman,Malioboro,serta penampilan dari Putri Santa Ursula Marching Brass.Walaupun ada beberapa kekurangan,pentas seni tetap bisa dibilang sukses.

             Pentas Seni di Taman Ismail Marzuki pun berakhir,dan kami pun pulang dengan tenang dan senang.

 

 Elisabeth Gelu  dan Florencia Suhardi  

 

 

Kesuksesan Acara Pentas Seni 155 Tahun Sekolah Santa Ursula

‘ Untaian Mutiara Khatulistiwa’

Oleh : Penelope 71 & Radella 71

 

          Kami sangat bangga bersekolah di Santa Ursula , yang sudah berusia 155 tahun namun tetp berdiri kokoh dan setia mendampingi muridnya .Serangkaian acara perayaan 155 tahun Sekolah Santa Ursula diawali lomba kebahasaan serta langsung dilanjutkan oleh pentas seni musikal , gerak dan tari dengan judul ‘ Untaian Mutiara Khatulistiwa’

          Banyak sekali yang menonton pentas seni ini , dari Tingkat Tk sampai tingkat SMA . salah satunya adalah Pene yang berhasil mendapatkan tiket , Namun sayangnya temannya yang bernama Della yang juga sudah memesan tiket tidak bisa datang karena daerah tempat tinggal Dela terkena bencana banjir. Pene sungguh beruntung dapet menonton pentas seni ini , karena pentas seni ini diadakan setelah lima tahun lalu . Namun Della justru bersedih karena rumahnya tergenang banjir , namun senyumannya kembali karena Pene telah menceritakan keseluruhan kisah Pentas seni ini kepada Della , mulai dari pembukaan sampai penutupan .

          Pene datang pada pukul 12 lebih 30 menit . sebenarnya ia sudah berangkat dari pukul sebelas namun karena macet ia tiba satu setengah jam sesudahnya . lalu ia langsung mencari teman temannya , pene bertemu dengan beberapa orang temannya , ada yang sedang makan dan sedang mengobrol sambil menunggu acara dimulai ., kemudian karena masih ada waktu ia juga berkeliling ke pameran karya sanak anak Santa Ursula. ‘menurutnya semua karya yang dipajang sangatlah indah , ia juga bangga keika menyadari bahwa semua karya yang dipajang adalah karya anak Santa Ursula . tak lama setalah itu , seluruh penonton dipersilahkan untuk masuk ke dalam theater besar , dan mereka semua langsung berlomba lomba menuju ke theater di lantai dua saking semangatnya .

          “Aku sih tertarik banget sama pensi kali ini , karena aku juga liat usaha temen temen aku yang rela keluar saat pelajaran berlangsung untuk latihan seharian dan kembali dengan tugas yang bertumpuk tumpuk , banyak banget ! aku juga bangga , karena ternyata perjuangan mereka enggak siasia , usaha keras mereka berbuah manis ! “ ujar Pene . Pene terlihat sangat senang karena dapat menonton acara ini . terlebih lagi pene mendapat kursi yang sangat nyaman , di balkon tengah lantai dua yang bisa terlihat jelas seluruh panggungnya .

          “ Kalau aku sih sebenernya pengen banget pensi lagi , udah gak ssabar kalau harus nunggu lima tahun lagi hehe , soalnya pensi ini menarik banget , temanya jugaTidak membosankan  , intinya pensi Santa Ursula kali ini The Best lah !” kata pene setelah pentas seni musikal yang menceritakan tentang burung cendrawasih yang rela berkeliling indonesia untuk berterimakasih kepada orang yang telah menyelamatkan nyawanya usai.

          Perayaan 155 Tahun Sekolah Santa Ursula diawali dengan Lomba kebahasaan dimana dibagi menjadi kurang lebih 7 kategori . satu kategori untuk unit TK , dua kategori untuk unit SD , 3 kategori untuk unit SMP , dan satu kategori untuk unit SMA . karya karya unggulan yang diperoleh dari setiap unit ini dipajang di Pentas Seni 155 Tahun Santa ursula , dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang dapat penghargaan yang dibagikan pada Misa Kampus pada 26 Januari lalu , setiap unit diperoleh 3 pemenang yang berhak mendapatkan piagam serta piala . serta pada tanggal 25 Januari 2014 lalu , diadakan sebuah talkshow yang mengundang pembicara utama yaitu Bapak Joko Widodo , Gubernur DKI Jakarta namun sayang , Bapak Gubernur berhalangan hadir , dan kami juga merasa terhormat karena mendapat video messege langsung dari Bapak Joko Widodo sebagai permintaan maaf . dan masih banyak rangkaian perayaan 155 tahun SMP Santa Ursula ini , sampai Pene dan Della tidak sabar !