Hai! Benkyou shimasho!” Itulah kata-kata yang selalu diucapkan Martha-sensei sambil mengulas senyum sabar di awal pelajarannya. Sabtu pagi ia mulai dengan gembira. Siswi-siswi menyimak dengan serius apa yang diajarkan Martha-sensei sambil mencatat poin-poin penting dari penjelasan Martha-sensei.

SANUR NEWS, Jakarta: Sabtu (16/11) Kami melakukan wawancara kecil dengan guru ekskur bahasa Jepang, Martha. Martha, yang kerap dipanggil sensei lahir pada tanggal 7 September 1968 di Jawa Timur. Ibu dengan tiga anak ini mengajar bahasa Jepang sejak tahun 1988, saat ia berumur 20 tahun. Ia mengajar ekskur bahasa Jepang di  SMP Santa Ursula sejak 2004 bersama Vianna-sensei. Mereka membagi tugas dengan mengajar dua kelas berbeda.  Vianna mengajar kelas lanjutan II, sedangkan Martha mengajar kelas lanjutan I dan dasar.

Pagi hari, tepatnya pukul 07.00, kegiatan mengajarnya dimulai di SMP Santa Ursula. Martha mengajar kelas lanjutan I di kelas IX-2. Martha dengan sabar mengajar siswi-siswinya. Ada 4 kompetensi yang dipegang Martha dalam mengajar siswi-siswinya, yaitu mendengar (kiki), menulis (kaki), membaca (yomi), berbicara (hanasu/hanashi). Setelah mengajar kelas lanjutan I, Martha beristirahat selama 20 menit sesuai jadwal. Martha juga mengejar kelas dasar di ekskur siang. Pukul 11.00, Martha selesai mengajar. Ia harus melaporkan absen siswi ekskurnya kepada guru piket hari itu. Itulah kegiatan yang dilakukan Martha setiap hari Sabtu di SMP Santa Ursula. 

Martha mengajar ekskul bahasa Jepang karena dipanggil untuk mengajar. Martha sendiri tertarik dengan tawaran ini dan suka mengajar. “Saya senang mengajar. Omoshiroi desu! Kalian juga latih bahasa Jepang kalian, ya!” ujar Martha sambil tersenyum kecil dan melanjutkan kegiatan mengajarnya.     

Ukiran Tinta yang Bermakna

Meja-meja disusun menjadi sebuah persegi panjang besar, koran-koran ditata secara acak tetapi rapi di atasnya. Bersama pemuda kelahiran Jakarta, 21 April 1995, Hadiyanbimo, para siswi belajar membuat kaligrafi yang indah.

SANUR NEWS, Jakarta: Sabtu (16/11) Pagi yang menyenangkan menanti mereka, begitu yang dipikirkan oleh para siswi ekskur Jepang. Mereka akan mendapat satu lagi pengetahuan tentang budaya Jepang: Shodo. Guru yang diundang, Bimo, yang akrab dipanggil sensei, menjelaskan sedikit tentang alat dan bahan yang diperlukan serta apa saja langkah yang harus dilakukan dalam menulis shodo.

Langsung saja mereka beraksi. Sebelum itu, mereka melihat sekilas cara menulis yang diperagakan oleh sensei. Karena permintaan beberapa kanji dari siswi sedikit sulit, Martha-sensei dan Vianna-sensei (guru ekskur yang sebenarnya) membantu menuliskan kanjinya di kertas dan Bimo –sensei lantas menuliskannya dengan kaligrafi indah.

Ellen, siswi kelas VIII-4, menghabiskan waktunya dengan menggambar menggunakan kuas. Muncul ide menarik, Ellen menggambar di kertas, menyisakan sedikit ruang kosong di samping gambar, dan siswi lain menuliskan kanji di ruang kosong tersebut. Ide itu disambut dengan antusias. Mereka langsung melaksanakan ide tersebut dan terpampanglah berbagai gambar dengan goresan tinta yang unik di madding SMP Santa Ursula saat ini.

Relaksasi Sebelum Ulangan Umum ala Ekskur Perancis

Makanan… Segera saja pikiran memvisualisasikan makanan yang disuka. Seakan-akan ada makanan itu, harumnya tercium, rasanya memuaskan, membuat perut semakin keroncongan. Itulah yang dilakukan siswi ekskur Perancis. Memasak makanan pembuka ala Perancis!

SANUR NEWS, Jakarta: Sabtu (16/11) Quiche Lorraine, Soupe à l'oignon, croûton. Itulah yang dibuat oleh para siswi ekskur Perancis. Siswi-siswi dengan gembiranya mengaduk-aduk bumbu, memotong roti, dan menyiapkan banyak bahan lain. Makanan pembuka atau yang biasa disebut appetizer oleh orang-orang Eropa adalah makanan yang dihidangkan sebelum menikmati makanan utama. Karena itu, makanan pembuka bersifat ringan.

Ditemani oleh pembimbing ekskur, Dra. Savitri Hendra Dewi, M. Si. Par, mereka menciptakan hidangan yang membuat air liur menetes. Croûton yang merupakan garlic bread ala Perancis membuat semua orang terpana melihatnya. Soupe à l'oignon, sup bawang perancis yang mengumbar selera. Melihat saja sudah dapat membayangkan kelezatan yang meleleh di lidah. Ditambah dengan baguette, atau yang sering kita sebut “roti Perancis” dengan bentuk panjang. Nikmatnya terasa. Belum lagi Quiche Lorraine yang wah… Makanan tadi sudah membuat kenyang perut siswi bahkan sebelum makan siang.

Pernak-pernik dari Negara Tirai Bambu

SANUR NEWS, Jakarta: Sabtu (16/11) Ekskur Bahasa Mandarin terlihat sibuk melakukan kegiatan keterampilan berupa pernak-pernik yang memiliki sentuhan khas dari Negara Tirai Bambu atau lebih sering dikenal dengan negara Cina.

Walaupun kami tidak mendapat kesempatan untuk mewawancarai sang ketua kelas ekskur Mandarin, kami mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Jesslyn (VIII-2/22) dan Linda (VII-3/22), dua siswi SMP Santa Ursula yang tergabung dalam ekskur Mandarin ini.

“Agar dapat menambah wawasan tentang Cina dan juga agar dapat memperlancar bahasa Mandarin.” Ungkap Jesslyn ketika kami bertanya tentang alasannya untuk mengikuti ekskur ini.

“Bagiku, ekskur mandarin seru, bisa mengunakan di kehidupan bila ketemu orang Cina.” Kata Linda dengan senyum.

Kami juga mendapat kesempatan untuk mewawancarai sang guru ekskur Mandarin, Laoshi Shirley. Menurutnya, “Tidak ada duka dalam mengajar di SMP Santa Ursula, sukanya adalah bahwa murid-muridnya aktif dalam kelas.” ketika ditanyakan tentang suka-dukanya mengajar di SMP Sanur. “Menurutku, murid-murid SMP Sanur aktif, ceriwis, percaya diri, dan kreatif.” Ungkapnya dengan senyum yang hangat.

Movie Session with the English Class

SANUR NEWS, Jakarta: Saturday (16/11) upon entering the English extracurricular class, we noticed that the students were watching a movie. After a quick introduction with the teacher, Miss Flora, our interview started.

“I used to teach at the high school and I love teaching.” Flora stated when we asked why she chose to teach at St. Ursula JHS. “I taught children, teenagers, and also adults. I love teaching children.” She answered in fluent English, “The dislike in teaching is that it’s difficult to make the students quiet. But since the beginning of the semester the students are getting better.” She continued.

“In learning a language, you have to love it to master it.” She quoted as a finale to our short interview.